Minggu, 24 November 2013

apakah skripsi selalu seperti ini?

ggrrrrrrrrrr
*tulisan ini saya buat saat sedang merasa galau, tertekan, kesel, capek, bete, nggrundel (halah) sama skripsi tersayang dan tercintaku*

beneran nggak sih skripsi selalu bikin kaya gini? selalu bikin galau habis-habisan? hai kalian, jawablaahhh -__-

sedikit curhat aja sih. ini lagi ada di tahap atau fase dimana, saat nyebar angket banyak, angketmu tersisa lumayan dan kamu dapat tekanan dari sana sini, galau maksimal, stres akut, (amit-amit jangan sampai) depresi. di saat seperti ini sebenernya lupa, bahwa jalan di depan juga pasti ada yang lebih susah dari ini, jadi kenapa mengeluh?

ggggggggrrrrrrrrrrrrrrrrr
tulisan absurd, soalnya pikiran juga lagi absurd

Jumat, 18 Oktober 2013

move on

pernah nggak kamu ngerasa sakit hati atau patah hati sama orang yang bener-bener kita sayang? gimana rasanya? pasti sakit kan ya. pernah nggak mencoba buat melupakannya dan ternyata masih susah? pasti pernah. it's been called move on :)

kalau dibahasakan sendiri, move on itu bergerak, maju. bergerak dari mana? bergerak dari satu tempat ke tempat lain. maju kemana? maju ketempat yang menurut kita lebih baik atau sedang mencoba membuat tempat itu lebih baik. move on itu sekarang identik dengan orang yang habis putus terus pengen melupakan dengan berbagai cara, atau orang yang ditolak cintanya tapi masih belum bisa menerima keadaan dan berusaha melupakan. yaaa, itu sih populernya kata-kata move on sekarang. padahal nggak semua arti kata move on itu untuk menggambarkan tentang cinta melulu lho. bisa aja tentang skripsi *ppftttt. harus bisa move on dari skripsi itu berarti ya harus rela berkorban lebih banyak buat kelangsungan hidup skripsi yang lebih layak dan lebih makmur *halah apaan coba.

tapi disini aku nggak mau ngomongin masalah skripsi dulu. mau ngomong masalah cinta *biar dikira anak muda :p

dan horeeeeeeeeee :D
sekarang aku udah move on lho dari seseorang yang membelenggu perasaanku bertahun-tahun. it's not easy, you know. dan setelah move on begini, satu hal yang selalu ada dibenakku. KENAPA SIH INI NGGAK BISA AKU LAKUIN DARI DULU? -_-
sungguh, awalnya aku pikir, move on dari dia adalah sesuatu hal yang sangat nggak mungkin buatku. bagaimana bisa coba aku hidup tanpa punya cinta buat dia yang sungguh-sungguh sangat berarti buatku? dan aku selalu saja dengan bodohnya menunggu dan menunggu dia yang nggak jelas juntrungannya, mau suka aku atau nggak? atau malah udah nglupain aku.

tapi dari situ, dari awalnya yang sangat susah, aku berpikir, berpikir dan terus berpikir. semakin hari aku semakin tua. semakin hari aku semakin dewasa. semakin hari harusnya aku bergerak maju, bukannya stuck ditempat yang nggak seharusnya (baca: nggak bisa pergi jauh dari dia). teringat nasihat dari seorang teman (entah dari mana sumbernya, aku lupa) yang bilang, "jadi perempuan itu harusnya kuat, nggak boleh nunggu satu orang yang mengabaikan kamu dan kamunya malahan mengabaikan orang-orang yang serius sayang sama kamu. emangnya kamu mau gitu sampai umur 30an nggak nikah-nikah gara-gara nunggu orang itu? nunggu dia yang jelas-jelas udah bahagia sama pilihannya dia? kamu mau jadi orang bodoh atau apa?" jleb sekali omongannya. awalnya (jujur) aku sakit hati sama omongannya. pikirku ya siapa dia berani-beraninya ngomong gitu sama aku. tapi lama-lama dipikir, bener juga ya. aku nggak mau gara-gara dia, aku malahan jadi nggak nikah-nikah. naudzubillah.

lalu, bagaimana aku bisa move on? pertama-tama yang aku lakukan adalah berdamai dengan kenyataan. lebih membuka hati, bahwa apa yang kamu lihat selama ini itu benar. harus bisa berpikir realistis, bukan hanya mengandalkan perasaan. ya kita nggak bisa terus-menerus mengandalkan perasaan bukan tanpa berpikir? ya begitulah seharusnya.
yang kedua, adalah ikhlas. ya, ini bagian yang paling susah. ikhlasin orang yang selama ini udah mengisi hati dan pikiran serta hari-harimu selama bertahun-tahun memang bukanlah perkara mudah. tapi jika terus-menerus bertahan pada perasaan yang terus-menerus menyakitmu, bukankah justru kamu sedang merusak dirimu sendiri? ya, itulah aku yang pikirkan. sambil terus berusaha untuk berdamai dengan kenyataan, aku juga mencoba ikhlas. mencoba kembali menjadi orang ceria dan tidak pemarah seperti dulu kalau didepan dia. mencoba berdamai dan bersikap ramah ke pacarnya memang bukanlah perkara mudah, tapi kalau nggak sekarang ya mau kapan lagi kan? ada rasa takut waktu pertama kali mencobanya. dan alhamdulillah, ada moment tepat buat ngelakuin semua itu. nggak bisa nyangkal kalau hati juga berdebar-debar nggak karuan. tapi, voila, alhamdulillah loh, beban berat yang menumpuk di kepala dan hati tiba-tiba menghilang dan menguap begitu aja. rasanya plong. pikiran dan perasaan juga jadi lebih ringan.

nggak cukup sampai disitu, nggak cukup sekali juga. berkali-kali melakukan itu, sampai perasaan ini benar-benar hilang. sungguh, rasanya, aku bisa melihat senyum tulus diwajah mereka berdua itu suatu kebahagiaan tersendiri buatku. mereka nyaman, aku juga merasa nyaman dengan perasaan yang sekarang. nggak ada lagi cemburu seperti dulu. nggak ada lagi amarah-amarah seperti dulu. dan alhamdulillah, semuanya terlihat begitu menyenangkan.

KENAPA NGGAK DARI DULU YA? kenapa nggak dari dulu? karena selama "nggak dari dulu" itu kita sedang berproses, menentukan mana yang akan menjadi terbaik buat kita. mana yang menjadi terbaik untuk hati dan pikiran kita. nggak asal mengambil keputusan saat hati dan pikiran juga lagi kacau dan panas-panasnya. proses "kenapa nggak dari dulu" itu juga sebenarnya membantu kita melihat proses, membantu kita buat menjernihkan pikiran juga buat baiknya kemana kita melangkah. saat kita melangkah, bertahan atau move on, itu sebenarnya membantu kita mengambil keputusan yang tepat, nggak cuma mengandalkan emosi dan ego sesaat. nggak hanya menyalahkan mereka ataupun keadaan apalagi Tuhan.

ya, yang namanya proses itu nggak ada yang gampang. apalagi yang berkaitan dengan masalah hati. move on itu bukan berarti melupakan dan malah pergi jauh menghindar. bukan. move on yang sebenarnya itu adalah ikhlas. ikhlas melihatnya bahagia bila bukan denganmu.

santai sajalah menjalani hidup. Allah kan sudah menciptakan kita di dunia ini dengan berpasang-pasangan. jemput pasanganmu, dan berbahagialah dengan dia yang juga membahagiakanmu :)





*pssttttt : aku sudah move on darimu bukan berarti aku bisa melupakanmu ya. aku anggap kau itu bagian dari proses pendewasaan dan proses pencarian ;) semoga kau bahagia selalu

Rabu, 11 September 2013

look



kali ini aku bercerita tentang patah hatiku.

mungkin aku memang menyukai (bahkan mencintai) seseorang tanpa sadarnya diriku. bayangkan, sudah lama bersama-sama tapi masih juga nggak sadar. dan memang aku sendiri yang menyangkalnya bahwa rasa itu telah ada. ya, dia pacar orang. dia sahabat baikku. dan aku tidak apa-apa dengan status itu, karena aku hanya sahabat baiknya. aku marah? aku cemburu? aku sebal? aku benci? jelas. karena memang itulah teori patah hatiku. dan aku justru menyadarinya setelah dia benar-benar pergi dariku, pergi meninggalkan aku sendiri dengan menggenggam cinta dan dengan bodohnya selalu berdoa agar kau berpisah dengannya. aku wanita bodoh dengan sejuta pengharapanku padamu, yang bahkan mungkin tak akan pernah kau sadari dan kau pahami.

begini ceritanya, aku terlanjur "terikat dan tak mau melepaskan dirimu". dengan bodohnya. entah hanya aku atau kamu yang bodoh? justru disaat kamu telah dimiliki orang lain, kita justru semakin dekat. dengan status sahabat baik tentunya. tapi yang namanya perasaan memang tak pernah bisa bohong kan? bahkan meski perih sekalipun. aku sering membaca teori dimana-mana. yang mengatakan bahwa "pada akhirnya nanti, kita akan jatuh pada orang yang membuat kita nyaman, yang membuat aman dan tenang berada di dekatnya, selalu tertawa bila disampingnya, bersamanya kamu bisa menjadi apa adanya, serta menghabiskan waktu bersamanya adalah suatu hal yang tidak membosankan". andaikata memang begitulah aku dan kamu, bisakah kamu menyadarinya? karena aku lelah bila hanya aku saja yang menyadarinya dan membiarkan hatiku berspekulasi tentangmu, tentang rasamu dan tentang aku dan kamu.

jauh darimu membuatku banyak berpikir, memang benar, cuma kamu yang bisa membuat jantungku terasa hangat dan sejuk disaat bersamaan. bahkan kamu, satu-satunya lelaki yang tak mungkin menyentuhku, tak mungkin memaksaku, dan dengan ajaibnya, kamu selalu membiarkan aku menjadi diriku sendiri, selalu membiarkan aku mengutarakan apa yang ada didalam kepala dan hatiku tanpa perlu merasakan canggung. kamu dengan ajaibnya, yang mampu membuatku berubah menjadi lebih baik, tapi tak pernah sedikitpun kamu meminta imbalan yang membuatku rugi. tak pernah, karena imbalan yang kamu minta pasti itu juga akan membuatku terpacu lebih untuk berbuat dan melakukan yang terbaik, untuk keluargaku, untuk teman-temanku dan untukmu.

susahnya bangkit darimu membuatku sadar. bila mungkin ada lelaki lain yang benar-benar mencintaiku apa adanya, mungkin melebihi dirimu yang mampu menerimaku apa adanya yang mengharuskan lelaki itu harus berjuang keras untuk mendapatkan hati dan cintaku. mereka bisa saja mendapat perhatianku, tapi belum tentu bisa mendapatkan cintaku.

beberapa saat yang lalu, dari sebuah novel yang ditulis Indah Hanaco yang berjudul The Vanilla Heart, ada salah satu paragraf yang membuatku seakan tersadar oleh sesuatu. oleh perasaan yang selalu aku rasa. begini bunyinya "aku tau semua yang sudah dan akan kamu ucapkan. aku paham semua teori patah hati dan butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu. masalahnya, aku keberatan mematuhinya. aku merasa manusia harus bijak memanfaatkan waktu. kenapa manusia mesti membuang waktu untuk menangis sesuatu yang tidak bisa berubah? berduka pun ada masa kadaluwarsanya" barisan kalimat ini jelas bukan ditujukan buatku. aku saja tidak mengenal penulis ataupun tokoh yang ada didalam novel tersebut. tapi novel dan tulisan dari penulis seakan memarahiku, membuatku tersadar. apakah memang aku sebodoh itu? yang membiarkan waktuku terbuang sia-sia hanya untuk menunggu, menunggu dan menunggu seseorang yang sangat tidak jelas nantinya akan bagaimana terhadapku. hei, dia sudah punya pacar, dan bahkan mereka akan segera meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pertunangan. apalagi yang kau tunggu? haruskah terus-menerus berpijak pada rasa sok bertanggung jawab menyelamatkan dia dari orang yang tidak kamu sukai? tidak bisakah kau berdamai dengan kenyataan? menerima kenyataan, mengucapkan selamat dan membiarkan dukamu hilang diterpa angin?

TENTU. AKU PUN BISA MELAKUKAN ITU. dengan tidak mengurangi rasa hormat sedikitpun, kamu masih tetap sahabat baikku. kamu masih tetap ada dihatiku, tapi kedudukan dan kadar rasa yang ada tidak bisa semenakjubkan dulu. aku membiarmu terbang mengikuti arah kemana hatimu akan memimpin. aku membiarkanmu merajut asamu hingga tak ada lagi aku yang mengganggumu, tapi akan ada aku yang selalu mendukungmu. hei, biarkan aku mencari kekasih hati lain. aku juga lelah dan jengah menantimu seorang diri. kau berlari dan aku merangkak. aku juga kasihan pada hatiku yang terlalu aku biarkan kosong. hanya berdoa, bila nanti memang kau benar-benar jodohku, aku akan ada disini, merentangkan sayapnya lebar-lebar untuk kau kembali. tapi bila bukan, lihatlah hai sahabat baikku, aku juga tidak akan kalah denganmu :) *you must know what i mean ;)

terima kasih untuk semua yang pernah kau ajarkan untukku. terima kasih untuk semua yang pernah kau berikan untukku. semua-muanya. aku tidak akan pernah bisa membalasnya satu persatu. tapi aku akan balas dengan doa terbaikku agar kau selalu sukses dan selalu dilindungi Allah SWT. dan biarkan Sang Pencipta yang membalas semua kebaikanmu.

satu lagu yang selalu membuatku teringat padamu, Malaikat Juga Tahu - Glenn Fredly


*cepat atau lambat kau akan tahu keberadaan tulisan ini. cepat atau lambat kau akan tau bahwa hanya dirimu yang aku maksud disini. dan disaat kau tau, aku sedang berdiri disini, tersenyum melihat padamu dan berkata "aku baik-baik saja. kaupun harus demikian" :)

i loved you so